ISRA DAN MI’RAJ
A. Mukaddimah
بسم الله الرحمن الرحيم. السلام عليكم ورحمة الله
وبركاته. الحمد لله الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ
إِلَى الْمَسْجِدِ الأقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا
إِنَّه هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ (الإسراء: 1). الحمد لله الملك الوهاب الجبار التواب
الذى جعل الصلاة مفتاحا لكل باب. والصلاة والسلام على من نظر الى جماله بلا ستر ولا
حجاب وعلى جميع الآل والأصحاب وكل وارث لهم الى يوم المآب. أشهد أن لا اله إلا الله
وأشهد أن محمدا عبده ورسوله لا نبى بعده. أما بعد.
Hadirin yang dimuliakan oleh Allah Swt…
Bapak-bapak, Ibu-ibu yang saya hormati.
Remaja-remaji yang saya cintai.
Ade-ade sekalian yang saya kasihi.
Dan rekan-rekan yang saya banggakan.
Bapak-bapak, Ibu-ibu yang saya hormati.
Remaja-remaji yang saya cintai.
Ade-ade sekalian yang saya kasihi.
Dan rekan-rekan yang saya banggakan.
Hari berganti hari, bulan
berganti bulan, dan tahun pun berlalu. Tidak terasa peringatan demi peringatan
Isra miraj, sering kita laksanakan setiap tahun. Walaupun peristiwa yang sangat
bersejarah ini telah berulang kali kita peringati, namun hal ini tidak pernah
membosankan kita sebagai seorang mukmin. Karena dengan adanya peringatan Isra
mi’raj ini, sangat banyak manfaat yang akan kita dapatkan, baik itu berupa
pelajaran, hikmah bagi kita, maupun sebagai siraman rohani dan pemantapan iman
di dalam dada-dada kita.
Mengapa saya katakan sebagai siraman rohani dan pemantapan
iman? Karena Isra dan Mi’raj merupakan peristiwa maha ghaib yang menuntut umat
manusia, bukan hanya umat Islam, untuk mengimaninya.
Sebagaimana kita tau, Isra dan mi’raj merupakan fenomena
ilahiyah (atau sebuah kenyataan yang sengaja tuhan ciptakan) yang telah muncul
sejak masa awal kelahiran Islam itu sendiri, di tengah masyarakat yang memiliki
gaya berpikir sangat primitif dan sederhana, belum mampu menemukan discovery
atau penemuan-penemuan ilmu pengetahuan modern sepeti zaman sekarang ini.
Sehingga sangat sulit bagi seseorang di zaman itu untuk percaya terhadap
peristiwa Isra dan mi’raj ini. Oleh karenanya, bukan sesuatu yang aneh, jika
tidak sedikit orang-orang yang telah memeluk Islam, akhirnya kembali menjadi
kafir, karena peristiwa yang mereka anggap tidak masuk akal ini.
Isra dan mi’raj adalah mu’jizat ilahiyah yang memang tidak
mesti terjangkau oleh akal manusia. Akal manusia sangatlah terbatas untuk bisa
menelusuri eksistensi Isra dan miraj itu sendiri, karena Isra dan miraj adalah
termasuk urusan ghaib yang tidak bisa dicapai oleh sesuatu yang bersifat
inderawi (Al hawas). Dalam hal inderawi ini akal hanya diperintahkan untuk
meyakini dan tunduk kepada apa saja yang difirmankan oleh Allah swt, dan
disabdakan oleh nabi Muhammad saw.
Di sinilah kita bisa membuktikan kelemahan akal manusia. Dari
mana kita coba buktikan? Contoh…, kalau kita berandai untuk membawa akal kita
kembali ke zaman dahulu, ke zaman dimana belum ditemukan saintis, tekhnologi,
dan ilmu‑ilmu pengetahuan modern seperti zaman sekarang ini. Di zaman kolot
yang kalo kata anak sekarang, “zaman kuda masih gigit besi”.
Kalau pada waktu itu ada orang yang bercerita tentang radio,
televisi, komputer, internet. Adanya listrik yang sekali sentuh bisa terang,
sekali sentuh bisa gelap dengan seketika. Pastilah ia dibilang tukang sihir. Kemudian
bercerita pula tentang seseorang yang mampu menjelajah angkasa raya, bahkan
sampai mendarat di bulan dan sebagainya. Maka dapat kita bayangkan apa yang
akan terjadi terhadap seseorang yang bercerita seperti ini. Tidak pelak lagi,
dia pasti akan dituduh sebagai seorang pengkhayal, seorang yang aneh, bahkan
dianggap gila. Hal‑hal semacam ini, meskipun masih termasuk ke dalam ruang
lingkup alam dunia yang bersifat inderawi, tapi kita teramat yakin, pada saat
itu akal manusia tidak akan mampu menerimanya. Apalagi dengan hal‑hal yang
berbau alam ghaib? Tentunya akal lebih sulit untuk menganalogikan dan
menerimanya, kecuali hanya dengan satu hal, “iman!”, bagi orang-orang yang
hatinya bersih.
Hal inilah yang dialami oleh baginda Rasulullah Saw ketika
menyampaikan peristiwa ini, secara spontan orang‑orang Qurays mengatakan bahwa
beliau adalah seorang pembohong, pengkhayal dan bahkan dituduh sebagai seorang
yang telah gila, Sehingga tidak sedikit orang‑orang yang masih tipis imannya
menjadi murtad kembali dari agama Islam.
Pada zaman kita sekarang, tentunya sudah tidak asing lagi
bagi kita, bila seseorang mampu mendeteksi kondisi luar angkasa hanya melalui
sebuah layar komputer, yang sama sekali tidak mempunyai sambungan kabel ke luar
angkasa sana. Betapa banyak ilmu‑ilmu baru yang masih akan ditemukan oleh
manusia di masa mendatang, yang mungkin pada saat ini masih kita anggap sebagai
sesuatu yang mustahil. Hal ini sesuai dengan firman Allah Swt yang mengatakan:
سنزيهم
آيتنا في الآفاق وفي أنفسهم حتي يتبين لهم أنه الحق، أو لم يكف بربك أنه علي كل شيء
شهيد. (فصلت: 53)
“Akan Kami perlihatkan kepada mereka tanda‑tanda (kekuasaan)
Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri. Sehingga jelas bagi mereka,
bahwa AI‑Qur’an itu adalah benar. Apakah Tuhanmu tidak cukup bagi kamu bahwa
sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu”. (QS.
41:53).
B. Beberapa Peristiwa Penting
Menjelang Isra` dan Mi’raj
Sebagian ulama berpendapat,
bahwa tujuan Isra dan mi’rai adalah merupakan hiburan untuk mengangkat hati
Rasulullah Saw yang sebelumnya telah mengalami berbagai cobaan dan ujian dalam
mengemban dakwah Islam. Setidaknya ada tiga cobaan besar yang pernah dialami
Rasulullah Saw sebelum peristiwa Isra’ dan Mi’raj ini, yaitu: pengasingan
sosial yang dilakukan kaum Qurays terhadap Bani Abdul Muthalib dan Bani Hasyim,
Wafatnya dua orang yang sangat dicintai Rasulullah Saw dan yang selama itu
senantiasa menjadi penopang dakwah nabi, yaitu pamannya Abu Thalib dan Istrinya
Khadijah binti Khuwailid yang senantiasa setia mendampingi Rasulullah dalam
pahit getirnya mengemban risalah dakwah. Sehingga tahun terjadinya cobaan ini
sering diistilahkan dengan tahun kesedihan (Âm al Huzni), dan soal penolakan
masyarakat Thaif terhadap dakwah Islam yang dibawa oleh Rasulullah Saw. Bukan
hanya sekedar penolakan, bahkan lebih dari itu, dimana Rasulullah Saw dilempari
dengan batu sehingga mengakibatkan kaki beliau bersimbah darah. Selanjutnya
akan kita uraikan tiga cobaan itu secara lebih terperinci.
1. Pengasingan
Pada tahun ketujuh sejak
kenabian Muhammad saw, seluruh kabilah musyrikin Qurays berkumpul dan sepakat
untuk memboikot Bani Abdul Muthalib dan Bani Hasyim dari kegiatan sosial.
Bentuk kesepakatan blokade ini adalah: larangan berhubungan jual beli, dan
berbicara dengan mereka. Menurut kesepakatan, pengasingan ini hanya bisa dicabut
apabila Bani Abdul Muthalib dan Bani Hasyim menyerahkan Muhammad ke tangan
mereka untuk dibunuh. Dokumen kesepakatan pengasingan ini ditempelkan pada
dinding dalam Ka’bah agar tidak bisa dilihat dan dicabut oleh siapapun.
Dengan ini berarti Qurays telah mengumumkan mulai berlakunya
resolusi pengasingan sosial terhadap nabi Muhammad Saw dan para pengikutnya,
dan yang telah memeluk ajaran Islam secara khusus, juga terhadap Bani Abdul
Muthallib dan Bani Hasyim secara umum walaupun belum masuk agama Islam. Mereka
dihimpun disebuah lembah kering yang jauh dari sumber makanan, yang disebut
sebagai lembah Abu Thalib. Pengasingan yang tidak berperikemanusiaan ini
berjalan selama tiga tahun lebih. Dalam jangka waktu sepanjang itu, Bani Abdul
Muthallib dan Bani Hasyim tidak diperkenankan menjual atau membeli barang
apapun di pasar. Sehingga rintihan kelaparan dan tangisan kehausan, selalu
terdengar dari kaum tertindas ini. Tidak sedikit diantara mereka yang
mengikatkan batu pada perut sekedar untuk menahan rasa lapar yang mereka
derita, tidak sedikit diantara mereka yang makan dedaunan untuk sekedar
menyumpal perut kosong. Sementara Abu Jahal dan para pengikutnya selalu awas
dan waspada terhadap siapa saja yang berani melanggar ketentuan resolusi yang
telah disepakati bersama ini. Abu Jahal tidak pernah merasa tersentuh mendengar
tangisan bayi dan rintihan orang tua yang sedang menderita kelaparan. Yang
terpenting bagi Abu Jahal hanyalah, bagaimana Bani Abdul Muthallib dan Bani
Hasyim bersedia menyerahkan nabi Muhammad untuk dibunuh atau mau berhenti dari
kegiatan dakwah yang diembannya.
Pada tahun kesepuluh dari kenabian, atas kebesaran Allah
Swt, Rasulullah bermimpi, bahwa dokumen kesepakatan yang terdapat di dalam
ka’bah itu telah terhapus dimakan rayap, kecuali sedikit tulisan nama Allah
yang masih tersisa di dokumen terlaknat itu. Mimpi ini beliau ceritakan kepada
pamannya Abu Thalib, Abu Thalib pun mempercayainya. Akhirnya Abu Thalib
mendatangi kumpulan kafir Qurays dan menceritakan apa yang telah ia dengar dari
keponakannya. Selanjutnya ia mengatakan: “Allahlah yang telah menghancurkan
dokumen kalian yang biadab dan terlaknat itu. Jika benar apa yang dikatakan
oleh keponakanku, maka kalian harus menghentikan pengucilan dan pengasingan
yang tak berperikemanusiaan ini, dan jika ia berbohong maka akan aku serahkan
ia kepada kalian untuk dibunuh”.
Kafir Qurays menerima syarat yang diajukan oleh Abu Thatib
itu dengan senang, dan mereka merasa bahwa kemenangan segera akan mereka
peroleh. Karena mereka sangat yakin, bahwa apa yang dikatakan Muharnmad adalah
tidak benar dan mustahil terjadi, sebab dokumen yang dicap dengan tiga stempel
itu selalu berada dalam perut ka’bah dan belum pernah dilihat dan disentuh
manusia. Mereka bersama-sama pergi ke ka’bah untuk membuktikan siapa yang akan
menang. Sesampai mereka di sana, ternyata yang mereka temui sesuai dengan apa
yang dikatakan oleh Rasulullah Saw. Akhirnya, dengan perasaan marah mereka
terpaksa menghapus kesepakatan pengasingan itu. Bani Abdul Muthalib dan Bani Hasyim
diperbolehkan kembali ke rumah mereka masing-masing dan bergaul seperti sedia
kala.
2. Tahun Kesedihan (‘Âm AI Huzni)
Belum lama Rasulullah merasakan kebebasan dari cobaan pedih berupa pengasingan sosial, yang dilakukan oleh kafir Qurays, cobaan baru yang tak kalah pedihnya pun menimpa. Yaitu wafatnya Abu Thalib, sang paman dan sekaligus sebagai wali bagi baginda Rasul yang ditinggal ayahnya, Abdullah, semenjak beliau berada dalam kandungan ibunya. Abu Thaliblah yang bertanggung jawab atas keselamatan Rasulullah dan selalu melindungi dan menjaganya dari usaha pembunuhan kafir Qurays. Selang beberapa hari setelah wafatnya Abu Thalib, menyusul lagi cobaan yang sangat sulit ditanggung Rasululah, yaitu wafatnya sang istri tercinta Khadijah binti Khuwailid. Maka komplitlah sudah kesedihan yang dialami oleh Rasulullah. Beliau kehilangan penolong dakwah dengan kematian Abu Thalib, dan kehilangan pendamping setia dengan kematian Khadijah binti Khuwailid. Di masa hidupnya, Abu Thalib boleh dikatakan sebagai perisai bagi keberhasilan dakwah Rasulullah. Beliau selalu tampil sebagai pembela tatkala Rasulullah menghadapi ancaman pembunuhan dan penyiksaan dari kafir Qurays. Sementara Khadijah selalu menjadi penyejuk hati dikala gundah, dan menjadi penghibur dikala mendapat kesulitan.
Dengan kepergian Abu Thalib dan Khadijah, berarti Rasulullah
telah ditimpa oleh dua musibah besar, yaitu kehilangan penolong dan kehilangan
orang sebagai tempat bercerita dan berbagi duka. Pada masa inilah kesedihan
yang dialami Rasulullah sampai pada puncaknya. Sehingga tahun ini dikenal
sebagai tahun kesedihan (Âm al Huzni).
Memang sebuah kenyataan bahwa kematian Abu Thalib adalah
musibah besar dalam kehidupan Rasulullah, karena setelah kepergian beliau,
kafir Qurays semakin leluasa menyiksa dan merealisasikan usaha pembunuhan
terhadap baginda Rasul, yang tidak pernah bisa mereka lakukan ketika Abu Thalib
masih hidup.
Demikian juga halnya dengan kepergian Khadijah, merupakan
musibah yang besar dalam kehidupan dakwah Rasulullah saw. Perasaan sedih
meliputi beliau, tatkala berada di luar rumah tak didapati lagi Abu Thalib
sebagai penjaga dari kejahatan kafir Qurays, dan pulang kerumah hanya menemui
sebuah kekosongan, tidak ditemui lagi sang istri yang selalu mengucapkan kata
sabar dan selalu mendorong untuk tetap bersemangat malanjutkan perjuangan
dakwah. Dimana sekarang hati yang sangat besar itu? Yang bisa menjadi tempat
mengadu tatkala butuh pengaduan, yang bisa menyejukkan perasaan dikala
kepanasan. Dimanakah akal yang cerdas itu? Yang bisa memberikan solusi dalam
berbagai kesulitan, yang selalu membantu dalam menyelesaikan setiap problem
yang dihadapi. Dimana jiwa yang wilas asih itu? Yang selalu bersedia menanggung
penderitaan dan beban berat dalam memperjuangkan kebenaran. Dimana Khadijah
sang istri yang setia? Yang menyatakan iman tatkala orang‑orang mengingkarinya,
yang membenarkan tatkala orang‑orang mendustakannya. Dimana sang dermawan itu?
Yang menginfakkan hartanya untuk kepentingan agama Allah. Dimana suasana
kemesraan itu? Yang selalu diliputi rasa cinta dan kasih sayang, yang selalu
mendorong untuk tetap berjuang dengan tegar dan kekuatan. Semuanya telah pergi,
seiring dengan kepergian Khadijah menemui Tuhannya. Alangkah mengharukannya,
ketika Khadijah sakit ia melihat Rasulullah dalam keadaan sedih, karena
membayangkan bagaimana Khadijah yang dulunya hidup mewah dan kaya raya,
sekarang terbaring sakit dengan tidak memiliki apa‑apa. Namun apa yang terucap
dari mulut wanita yang ikhlas ini? “Wahai Rasulullah, janganlah engkau bersedih,
kalaupun ada jalan yang terputus untuk keberhasilan dakwah ini, dan tidak ada
papan sebagai jembatannya, saya bersedia menyerahkan tubuh ini sebagai
penggantinya!”. Siapakah kiranya yang tidak akan bersedih ditinggal seorang
istri mulia seperti ini? Rasulullah sebagai manusia biasa (Basyar), juga tidak
luput dari perasaan sedih bila ditimpa musibah yang amat besar seperti ini.
Penulis buku “Sîrah Nabawiyyah wa Atsar Muhammadiyyah”
mengatakan: “Setelah Abu Thalib meninggal, permusuhan kafir Qurays semakin
menjadi-jadi terhadap Rasulullah. Berbagai penyiksaan diarahkan kepadanya tanpa
ada lagi yang membela. Pada suatu hari Rasulullah pulang ke rumahnya dengan
kepala penuh dikotori tanah bekas Iemparan kafir Qurays, sehingga salah seorang
putrinya membersihkan kepala yang mulia itu sambil menangis. Rasulullah
berkata: “Wahai anakku, janganlah engkau menangis! Karena Allahlah yang akan
melindungi bapakmu ini”. Sehingga akhirnya Rasulullah mengatakan: “Belum pernah
Kafir Qurays melakukan hal seperti ini kepadaku, hingga wafatnya Abu Thalib”.
3. Berdakwah ke Thaif
Dengan diliputi kesedihan
yang tiada taranya di kota Mekah, Rasululah tidak pernah merasa putus asa
menyebarkan dakwahnya. Setelah lebih kurang sepuluh tahun berdakwah di Mekah,
namun tidak mendapat hasil positif dari kaumnya, beliau berfikir untuk
berdakwah di luar Mekah. Tempat yang terpikir oleh beliau adalah daerah Thaif,
daerah dimana sewaktu Rasulullah masih bayi pemah disusui oleh Halimatus
Sa’diyah. Beliau berharap kalau masyarakat Thaif mau menerima dakwahnya,
sehingga bisa menjadi basis bagi perjuangan dakwah untuk masa‑masa mendatang.
Namun antara apa yang dibayangkan dengan realita yang beliau
temui ternyata sangat bertolak belakang. Dengan rasa kebencian peminpin Thaif
menolak dakwah Rasulullah, seraya mengatakan: “Keluarlah engkau dari negeri
kami ini, cari tempat lain yang engkau sukai. Kami sangat takut akan terjadi
kekacauan di tengah masyarakat dan kerusakan terhadap agama mereka”.
Sebagaimana masyarakat Thaif tidak ramah menyambut
kedatangan Rasulullah, begitu pula halnya Rasulullah keluar dari Thaif dengan
pengusiran dan kekerasan. Pemimpin Thaif mengerahkan masyarakatnya yang bodoh‑bodoh
beserta anak-anaknya untuk mengusir Rasulullah dengan lemparan batu. Sehingga
kedua kaki Rasulullah penuh luka, berlumuran darah.
Rasulullah hanya mampu menadahkan tangannya kepada Allah
ketika meninggalkan Thaif, beliau adukan semua kelemahan dan ketidak berdayaannya
kepada yang Maha Perkasa. Pengaduan Rasulullah ini terabadikan dalam do’anya
yang sangat masyhur: “Ya..Allah, aku mengadukan kepada-Mu tentang
kelemahanku.., ketidak berdayaan yang aku miliki.., rendahnya aku di hadapan
manusia. Ya..Allah, Tuhan yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.., Engkau
adalah Tuhan orang‑orang yang tertindas.., dan Engkau adalah Tuhanku..kepada
siapa akan Engkau serahkan diriku ini? Apakah kepada orang jauh yang akan
memberengutku..? Ataukah kepada musuh yang akan menguasai diriku? Asalkan
Engkau tidak murka kepadaku, aku tidak peduli.., akan tetapi ampunan-Mu yang
Maha Luas sangat aku harapkan. Aku berlindung dengan cahaya wajah-Mu yang
menerangi segala kegelapan, Yang dengan itu urusan dunia dan akhirat ini akan
menjadi baik, dari kemarahan-Mu kepadaku, dan dari kemurkaan-Mu yang akan
Engkau timpakan kepada diriku, serta dari seluruh cela yang aku miliki,
sehingga Engkau ridha kepadaku. Tidak ada kekuatan dan daya upaya kecuali hanya
milik‑Mu, ya..Allah!’
Maka dari sekian banyak ujian dan cobaan yang dialami
baginda Rasul di tahun sepuluh kenabian ini, kemudian dinamakan sebagai tahun
kepedihan dan kesedihan. Namun Kondisi seperti ini terus berlanjut dengan
perjuangan dan pengorbanan Rasulullah yang tak mengenal putus asa. Sementara
para musuh Allah, terus saja melancarkan makarnya kepada Rasulullah Saw.
Allah Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana, semua peristiwa
diatas terjadi dengan kehendak-Nya. Dan perlindungan Allah Swt selalu menyertai
Nabi Muhammad. Karena itu, Allah memerintahkan agar Rasulullah bersabar, demi
memantapkan hati beliau terhadap kebenaran janji‑janji Allah, seperti yang kita
temui dalam AI‑Qur’an.
Alangkah mulianya seorang da’i yang telah mengorbankan
dirinya untuk kepentingan umat manusia, menahankan berbagai kepedihan dan
penderitaan dari sikaan musuh‑musuh AIlah yang durjana. Sebagai seorang
manusia, tentu saja Rasulullah tidak luput dari rasa sedih dan duka bila
menemui orang‑orang yang menolak dakwahnya, sementera beliau sangat ingin agar
mereka mendapat hidayah, dan berada dalam keimanan.
Maka telah tiba saatnya Rasulullah mendapatkan udara baru,
untuk mengurangi kesedihan yang tak terperikan ini, guna membangkitkan kembali
kekuatan jiwa dan semangat juang untuk menyebarkan agama Allah di muka bumi
ini.
Maka menginjak tahun sebelas kenabian, suatu peristiwa besar
terjadi, peristiwa yang sempat menghebohkan kota Mekah, dan menjadi buah
pembicaraan yang tak putus-putusnya hingga sekarang. Yaitu perjalanan unik
yang dilakukan oleh seorang hamba di muka bumi pada malam hari, yang
dilanjutkan dengan perjalanan ke langit. Itulah peristiwa Isra’ dan Mi’raj nabi
besar Muhammad saw, yang selalu diperingati oleh umat Islam setiap tahunnya di
seantero dunia.
Perjalanan ini, Allah sendiri yang menentukan waktu, tempat, tujuan, dan maksudnya. Hal ini temaktub dalam firman Allah dalam surat Al‑Isra Ayat 1 yang berbunyi:
سبحان الذي أسري بعبده ليلا من المسجد الحرام الي المسجد الأقصي الذي باركنا حوله لنريه من آياتنا إنه هو السميع البصير. (الإسراء: 1).
“Maha suci Allah, yang
telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al
Masjidil Aqsha, yang Kami berkahi sekelilingnya. Untuk Kami perlihatkan
kepadanya sebagian dari tanda‑tanda kebesaran Kami. Sesungguhnya Dialah Tuhan
yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. 17: 1).
Waktunya adalah pada malam hari (Lailan). Tempatnya adalah
dari Al Masjidil Haram di Mekah ke Al Masjidil Aqsha di Palestina (Minal
Masjidil Haram iIaI MasjidiI Aqsha) untuk perjalanan di atas bumi, dan dari Al
Masjidil Aqsha ke Sidratul Muntaha untuk perjalan ke langit sampai ke al Mala`
al A’la bertemu dengan Allah Swt. Sementara tujuannya adalah untuk
memperlihatkan tanda‑tanda kebesaran Allah kepada nabi Muhammad serta keagungan
kekuasaan‑Nya (Linuriyahu min aayaatinaa).
Dari sini jelaslah bagi kita rahasia dan hikmah yang
terdapat pada peristiwa Isra’ dan Mi’raj ini, bukan hanya sekedar mujizat bagi
Rasulullah, akan tetapi juga, merupakan penghormatan kepada Rasulullah untuk
sampai ke Al Mala` AI A’la dan sebagai hiburan, serta pelajaran penempaan iman
bagi beliau. Lebih dari itu untuk Iebih menenangkan hati baginda Rasul serta
lebih menambah keyakinannya dengan bisa melihat langsung tanda‑tanda kebesaran
Allah, sesuai dengan firman Allah yang mengatakan: “Linuriyahû min âyyâtinâ”
(Agar Kami perlihatkan kepadanya dari tanda-tanda kebesaran Kami) serta dalam
firman‑Nya dalam ayat yang lain “Laqad ra`aa min aayyati rabbihil kubro”
(Sungguh ia telah melihat tanda‑tanda kekuasaan Tuhannya yang amat besar).
4. Persiapan fisik dan
mental Muhammad saw
Menjelang keberangkatan
Rasul melakukan Isra’ dan Mi’raj, beliau didatangi oleh utusan Tuhan, yang
membedah dada dan membersihkan hati beliau dengan air, sebagai persiapan
menghadapi perjalanan rabbaniyah yang amat aneh. Selanjutnya hati yang bersih
itu, dipenuhi dengan hikmah dan keimanan. Setelah itu barulah Rasulullah
diperjalankan ke Baitul Maqdis sampai ke Sidratul Muntaha menemui Allah.
Sebagian pengkaji rasionalis, mengingkari eksistensi
peristiwa pembedahan dada Rasul ini. Padahal kalau kita perhatikan perkembangan
ilmu pengetahuan di era teknologi canggih sekarang, dimana seorang astronot
harus dibekali dengan oksigen atau bekal lain justru memperkuat peristiwa itu
sendiri. Apalagi bagi kita seorang muslim beriman terhadap hadits‑hadits shahih
Rasulullah Saw yang berkenaan dengan peristiwa ini.
Kita melihat peristiwa ini, tidak lebih dari sebuah kehendak
Allah yang ingin memperjalankan hamba‑Nya, dengan aturan‑aturan Allah itu
sendiri. Peristiwa ini sendiri hanyalah salah satu mujizat dari sekian banyak
mujizat yang diberikan Allah kepada para nabi.
Isra’ dan mi’raj adalah sebuah perjalanan dengan aturan
Allah, yang juga menurut sunnatullah tetap membutuhkan persiapan tertentu yang
matang, baik dari segi fisik maupun mental. Sedangkan seorang astronot pada
zaman sekarang, untuk pergi ke bulan saja membutuhkan berbagai persiapan dan
latihan yang sangat pelik, agar mampu menghadapi berbagai kondisi. Maka tidak heran
jika Rasulullah yang akan menempuh sebuah perjalan, yang diatur langsung
menurut skenario Tuhan, juga membutuhkan persiapan menurut aturan Tuhan pula,
yang barangkali sulit dicerna oleh sebagian akal manusia.
Menurut penelitian para ahli hadis, seluruh hadis Nabi yang
berbicara tentang pembedahan dada nabi ini dapat diterima, sesuai dengan syarat
syahnya suatu hadits. Kalaulah demikian halnya, dan mayoritas periwayat hadits
sepakat membenarkannya, maka gugurlah semua pernyataan orang-orang yang
mengingkari keberadaan peristiwa itu.
Menurut para ahli sejarah Islam, peristiwa pembedahan ini
telah terjadi sebanyak empat kali bagi Rasulullah saw, yaitu:
Pertama, ketika menginjak umur tiga tahun, yaitu sebulan setelah kembali dari rumah Halimatus Sa’diyah, Ibu susuannya. Peristiwa ini terjadi dalam lingkungan perumahan Bani Saad.
Kedua, ketika berumur sepuluh tahun, dan peristiwa ini
terjadi di Makkah Al Mukarramah.
Ketiga, ketika berumur empat puluh tahun, yaitu menjelang menerima wahyu
pertama kali, sebagai penobatan beliau menjadi utusan Allah.
Keempat, ketika berumur lima puluh tahun, yaitu pada malam
Isra’ dan Mi’raj.
Seluruh peristiwa ini, bisa kita temui dalam hadits‑hadits
nabi yang shahih. Mungkin saja sebagian orang bertanya, apa hikmah dari berulang
kalinya peristiwa pembedahan dada rasul ini? Secara ringkas, di sini dapat
penulis kemukakan pendapat ulama tentang itu:
Dari pembedahan pertama adalah, agar Rasulullah tumbuh sebagai manusia sempurna, dan terbebas (ma’shum) dari godaan setan.
Dari peristiwa kedua adalah, untuk menambah kesucian hati
nabi memasuki usia dewasa yang lebih banyak menghadapi tantangan hawa nafsu.
Dari pembedahan ketiga, menjelang pertama kali menerima
wahyu, hikmahnya adalah bahwa yang akan diturunkan Allah kepadanya adalah Kalam
suci, oleh sebab itu hendaklah tempat bersemayamnya harus juga suci secara
sempurna, yaitu hati nabi.
Pada peristiwa keempat, yaitu ketika beliau akan berangkat
Isra’ dan Mi’raj. Hikmahnya adalah agar beliau dalam menghadap dan bertemu
Tuhan tidak memiliki sedikit nodapun.
Demikianlah diantara hikmah pembedahan dada nabi, dan tentu
saja tidak terbatas pada hal‑hal yang telah kita sebutkan itu saja.
C. Peristiwa Isra’ dan
Mi’raj
Peristiwa Isra’ dan Mi’raj
termasuk peristiwa sejarah yang sangat banyak mendapat perhatian dan
perbincangan para ilmuwan sosial. Diantara ahli sejarah, ada yang sangat
berlebihan dalam memandang kedudukan nabi Muhammad berikut mu’jizatnya, ada
pula sebaliknya, mengingkari sama sekali keberadaan mujizat dalam perjalanan sejarah
hidup seorang nabi.
Menurut Dr. Muhammad Said Ramadhan Al Buty, dalam bukunya
“Fiqhus Sîrah An Nabawiyyah”. Bahwa adanya pandangan yang mengingkari mu’jizat
Nabi dalam peristiwa Isra’ dan mi’raj ini, berasal dari para orientalis yang
turut mengkaji peristiwa Isra’ dan Mi’raj tanpa terlebih dahulu didasari
keimanan terhadap hal‑hal yang ghaib. Sehingga fenomena apapun dalam sejarah,
selalu mereka ukur dengan logika akal yang terbatas. Diantara para orientalis
yang memiliki pandangan seperti ini adalah Gustaf Lobon, Ougust Comte, Hume,
Gold Ziher dan banyak lagi yang lainnya. Sebagai sebab utama dari pandangan
mereka seperti ini adalah, karena tiadanya iman terhadap pencipta mujizat itu
sendiri. Karena jika iman kepada Allah telah tertanam di dalam jiwa seseorang,
maka akan mudah untuk mengimani segala sesuatu yang Iebih mudah dari pada itu.
Sayangnya, pemikiran seperti ini tidak hanya dimiliki oleh
para orientalis kafir saja. Akan tetapi telah diadopsi juga oleh sebagian
pengkaji dari kalangan kaum muslimin sendiri, yang terlalu silau dengan istilah
metodologi ilmiyah –padahal subjektif– yang digembar‑gemborkan Eropa. Sehingga
akhirnya mereka berpandangan bahwa yang melakukan Isra’ dan Mi’raj itu hanyalah
ruh nabi, bukan fisiknya (jasadnya). Karena menurut mereka, mustahil tubuh nabi
yang material dan terbuka itu bisa menembus lapisan langit dalam waktu yang
sangat terbatas.
Namun pandangan seperti ini telah banyak dibantah ole para
ulama Islam, bahwa kata‑kata ‘abdihi (hamba‑Nya) dalam surat AI‑Isra’ ayat 1
itu adalah terdiri dari unsur ruh dan tubuh. Karena dalam bahasa Arab, ruh saja
tidak cukup untuk bisa dikatakan sebagai hamba, begitu sebaliknya bahwa tubuh
saja tidak bisa dikatakan sebagai hamba. Yang dikatakan sebagai seorang hamba
mesti terdiri dari gabungan unsur ruh dan tubuh.
Selanjutnya di bawah ini kita masuk ke dalam pembahasan
peristiwa Isra’ dan mi’raj menurut pandanga ulama Islam.
1. Mulai
Perjalanan Isra (Dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha)
Sumber kisah-kisah tentang
perjalanan yang penuh misteri itu adalah kata‑kata pada permulaan Surah Al‑isra
yang berbunyi :
سبحان الذي أسري بعبده ليلا من المسجد الحرام الي
المسجد الأقصي الذي باركنا حوله لنريه من آياتنا إنه هو السميع البصير. (الإسراء:
1).
“Maha suci Allah yang telah
memperjalankan hamba Nya dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah
Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda‑tanda
(kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Tuhan yang Maha Mendengar lagi Maha
Melihat”.
Dalam kitab sirahnya, Ibnu Ishaq menggambarkan kisah Isra’
dan mi’raj ini sebagai berikut: Suatu malam Jibril membawa nabi naik ke atas
punggung samawi yang disebut Buraq; lalu Muhammad Saw mengadakan perjalanan
bersama Jibril. Dan dalam perjalanan malam ke Yerussalem, Rasulullah
diperlihatkan dengan berbagai keajaiban. Dan sesampainya di Masjidil Aqsha,
Rasulullah bertemu dengan nabi‑nabi terdahulu, sekaligus mendapatkan penghormatan
untuk mengimami shalat bersama mereka.
AI Buroq, dalam bahasa Arab menurut sebagian pendapat
berasal dari kata “Al Barq” yang berarti kilat. Boleh ditafsirkan bahwa
penggunaan nama ini dalam Al Qur’an adalah untuk menunjukkan kecepatan yang
tiada tara dari jenis kendaraan ini.
Di dalam buku‑buku hadis, Al buroq ini digambarkan sebagai
kuda putih yang sangat indah. Oleh sebab itu logika orang Arab pada zaman
Rasulullah Saw tidak dapat menerima peristiwa Isra dan mi’raj yang diceritakan
oleh baginda Rasul ini. Karena mereka mengetahui bahwa seseorang yang
mengendarai kuda pulang pergi dari Mekah ke PaIestina akan memakan waktu selama
lebih kurang dua bulan. Sementara Rasulullah mengatakan kepada mereka, bahwa
beliau telah pergi ke Masjidil Aqsha dan di lanjutkan lagi dengan perjalanan
mi’raj ke langit tinggi, hanya dalam waktu satu malam. Sehingga berita yang
disampaikan oleh rasul tercinta ini, menjadi bahan tertawaan dan cemoohan bagi
orang‑orang yang mempunyai penyakit dalam hatinya, yaitu orang‑orang kafir
Qurays yang mengingkari kebenaran ajaran Islam yang dibawa oleh Rasulullah saw.
Lain dengan kita yang hidup pada era teknologi canggih
sekarang ini, dimana para ilmuwan telah mampu menemukan kecepatan sebuah
teknologi yang melebihi kecepatan cahaya dan suara, yang secara aksiomatis
sudah pasti akan mengurangi panjangnya masa dalam menempuh sebuah perjalanan,
dan secara otomatis manusia pada zaman sekarang dapat memahami bahwa sesuatu
perjalanan sejauh manapun bisa dilakukan dalam waktu yang lebih singkat dari
yang terjadi pada masa‑masa sebelumnya.
Seandainya saja orang‑orang kafir yang menentang Rasulullah
itu masih hidup bersama kita sekarang ini, tentu saja mereka akan melihat
kebenaran apa yang disampaikan Rasulullah kepada mereka. Ternyata hal itu bukan
merupakan sesuatu yang mustahil dalam kehidupan kita sebagai manusia biasa di
zaman ini, apatah lagi kiranya bagi seorang rasul Allah yang dikehendaki
sendiri oleh Allah sebagai Sang Pencipta.
Dalam waktu yang sangat singkat, Rasulullah telah sampai di
“Al Bait Al Maqdis”. Di sana beliau bertemu dengan para nabi terdahulu, dan
mengimami shalat. Sesungguhnya Isra’ dan Mi’raj adalah perjalanan yang penuh
dengan keberkahan, antara Masjidil Haram yang dibangun ole Nabiyullah Ibrahim
dan anaknya Isma’il ‘Alaihimassalam di Mekah dan Masjidil Aqsha yang dibangun
oleh Nabiyullah Daud dan Sulaiman ‘AlaihimassalamI di Palestina. Kedua rumah
suci ini telah diberkahi oleh Allah swt. Demikian juga dengan apa yan terdapat
disekitarnya, demikian yang termaktub dalam firman Allah. Sehingga tempat ini
benar‑benar menjadi pusat peribadatan dan pengesaan kepada Allah Swt, dan pada
kedua tempat suci inilah wahyu‑wahyu Allah diturunkan kepada para rasul‑Nya.
Dalam perjalanan menuju Masjidil Aqsha, Rasulullah Saw
sempat singgah di suatu bukit yang penuh berkah, dimana Nabi Musa As pernah
menerima wahyu langsung dari All swt, yaitu “Bukit Tursina”, dan rasulullah
shalat dua rakaat di tempat itu. Disamping itu rasulullah juga mampir di tempat
kelahiran nabi Isa As, yaitu di sebuah bukit mubarakah yan disebut “Betlehem
(“baitullhami”, bahasa Arabnya)” dan beliau pun shalat dua rakaat. Akhirnya
sampai di “Baitul Maqdis”. Di tempat suci inilah, beliau bertemu dengan nabi Ibrahim
dan Musa di tengah kumpulan para nabi dan rasul Allah yang lain. Di tempat ini
juga Rasulullah Saw shalat sebagai imam bagi para nabi. Dalam hadis yang
diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, disebutkan bahwa malaikat Jibril datang
kepada Rasulullah dengan membawa dua gelas minuman, satu berisi anggur, dan
satu lagi berisi susu. Kemudian Rasulullah memilih gelas yang berisi susu.
Jibril berkata: “Engkau telah memilih Fithrah”. (HR. Bukhari dan Muslim).
Selanjutnya barulah
Rasulullah melanjutkan perjalanan ke langit, yang disebut dengan “mi’raj’.
Dalam peristiwa mi’raj inilah rasulullah melihat tanda‑tanda kebesaran Allah
yang Maha Agung (min aayaati Rabbihil Kubra).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar